Hal Yang Harus Dihindari Ketika Menulis

Menulis
Menulis
Dunia Sastra || Saat menulis sebuah cerpen,  buku ataupun novel yang hendak dibaca oleh banyak orang atau mungkin yang ingin dibukukan secara masal, kita tidak bisa asal tulis begitu saja. Sebagai penulis yang baik, kita harus mengikuti aturan dan tatanan yang berlaku dalam tulis menulis agar tulisan kita bisa “terbaca” orang lain. Lain halnya dengan menulis diari, yang hanya dibaca diri sendiri sehingga lebih santai nulisnya, ada beberapa hal yg harus diperhatikan saat menulis. Dengan menghindari hal-hal berikut ketika menulis, diharapkan tulisan kita bisa terbaca oleh para pembaca. Situ nulis buku mau dibaca orang kan ya?? Baiklah! Simak paparan berikut!! Check It Out...

Menulis tanpa berpedoman pada EYD (Ejaan yang Disempurnakan)
Para ahli bahasa telah bersusah payah melakukan penelitian, simposium, debat, dan pengumpulan data demi menyusun EYD, hargailah jasa mereka. EYD disusun dan ditetapkan demi menjaga bahasa Indonesia agar tidak rusak atau dirusak, jadi EYD itu ada juga demi kita sebenarnya. Situ nggak mau kan ya bahasa kita tercinta diobrak-abrik hingga tak berbentuk dan hilang identitasnya? Itulah pentingnya EYD. Karena bahasa adalah salah satu identitas sebuah bangsa. Mungkin, ada kalian yang masih awam apa itu EYD. Tenang, di toko buku banyak dijual buku EYD lengkap kok. Harganya sangat murah.  Apa saja sih isi EYD itu? Banyak banget, mulai aturan penggunaan huruf kapital hingga penempatan tanda baca, ada semua.

Tanya: Tapi, Min, aku kan mau nulis novel teenlit yang gahol. Gak perlu EYD kan ya?
Jawab: Boleh-boleh aja, tapi editormu darah tinggi ntar. Situ mau dikutuk jomblo lima dasawarsa?
Bahkan dalam hal menulis novel remaja yang aturan berbahasanya lebih luwes pun, EYD tetap diperlukan. Bahwa tulisan asyik yang taat aturan itu jauh lebih enak dibaca daripada tulisan sok asyik yang ditulis semaunya sendiri.

Asyik: “Halo, nama gue Angga. Mau kenalan nggak?”
Sok Asyik: “halo. nama gue angga. Mo kenalan ga?”
“Tulisan asyik yang taat EYD ternyata lebih enak dibaca ketimbang tulisan asyik yang tumpah-tumpah tatanannya. Yakin deh.” (Editor)

Tanya: “Tapi, belajar EYD itu susah, Min. Ribet!”
Jawab: “Enggak kok, aturan-aturannya jelas dan simpel sebenarnya.”

Yang punya EYD, coba buka-buka sebentar, sebenarnya isinya simpel dan jelas kok. Sejam dibaca juga kelar. Apa? Belum punya EYD? Situ punya koleksi novel selemari dan tumpukan komik segudang tapi sama sekali nggak punya buku EYD? ZOOM IN ZOOM OUT! Di toko buku, banyak banget buku EYD dengan berbagai edisi. Yang goceng juga ada kok. Mimin aja punya dua, masak situ enggak? Para editor yang hampir ngelotok isi otaknya sama EYD aja pada punya, apalagi kamu yang katanya mau jadi penulis. Wajib punya. Banyak pengetahuan yang bisa kamu dapatkan dari EYD, mulai dari penulisan huruf kapital hingga pemisahan kata depan dan kata utama.

Dengan belajar EYD, niscaya tidak akan terjadi lagi tragedi memakan abang di kalimat
“Ayo makan Abang!” (harusnya: Ayo makan, Abang!)

Nah! Jika Anda memahami tentang EYD, niscaya nanti anda akan menjadi peka terhadap sekitar. Bisa tahu pada spanduk-spanduk yang tulisannya aneh-aneh. juga bisa menghindari salah tulis di spanduk atau papan nama macam ini:

DI JUAL RUMAH DIKAWASAN ELITE HARGA NYA NEGO!
(Apa yang aneh dengan kalimat tersebut?)


Penggunaan kata-kata atau kalimat yang sudah usang atau lawas
Diusahakan untuk menghindari kalimat/kata yang sudah jarang digunakan, 
kecuali memang tujuannya untuk itu.
Bukankah akan terlihat aneh? jika ada novel remaja yang gaya penulisannya seperti ini?
“Bahwasanya, diberitahuken maklumat tentang pemilihan kepala kelas 9 SMP LINGKAR PINGGANG dilakoekan secepatnya.”
 
Penulis kekinian menulis dengan bahasa yang mampu diterima oleh pembaca yang kekinian juga. Bagaimanapun, dia menulis untuk dibaca orang. Bahkan penulis sepuh kaliber nasional tidak ragu “belajar” menulis dengan bahasa kekinian agar karyanya dibaca orang zaman sekarang. Kecuali memang tulisan itu ditulis dengan bahasa jadoel demi keindahan dan keklasikan yang menjadi ciri khasnya, maka tidak mengapa. Seperti karya susatra era Balai Pustaka dan Pujangga Baru yang memang menggunakan kata dan kalimat tempo dulu, keindahannya memang di situ. Contoh kata-kata usang: WTS, tapal gigi, terompah, dangau, steno, tabik, senyampang, penatu, suryakanta, dan hotel prodeo. Kata-kata usang mungkin akan terasa sangat indah jika dipakai dalam karya sastra. Untuk naskah umum kekinian, baiknya pakai yg umum saja.

Menggunakan kata dengan makna yang kurang tepat
Gimana cara menentukan sebuah kata itu sudah tepat makna atau belum? Gampang kok, buka kamus, KBBI, atau tesaurus. Nggak punya KBBI (yang tebal dan mahal itu)? Kamu bisa instal KBBI online atau cek langsung ke situs2 online seperti http://kateglo.com/ 
 
Tepat makna: Anak kecil rentan terserang penyakit.
Kurang pas: Para TKI rentan perlindungan hukumnya.

Kurang Pas: Adik pulang dari pasar membawa tas penuh belanjaan.
Pas: Adik pulang dari pasar menjinjing tas penuh belanjaan.
Kurang sedep: Adik mau Abang gotong?
Sedep ahhhhh: Adik mau Abang gendong?
*Mimin mau juga dong digendong Kak #eh

Bikin keselek: James Bond pandai melakukan mimikri di sarang musuh.
Gini aja deh: James Bond pandai melakukan penyamaran di sarang musuh.

Terlalu kekinian: Presiden AS baper dalam pertemuan APEC.
Gini aja deh: Presiden AS terbawa emosi dalam pertemuan APEC.

Nah! bagaimana? terlihat aneh kan? jika susunan/pemilihan katanya salah?


Pengulangan yang tidak perlu
 Tak perlu dijelasin lagi, kan sudah jelas.. intinya untuk menghindari kata yang berulang-ulang.

misalnya seperti ini:
Boros: Selain Andi seorang ketua kelas yang rajin, Andi juga baik dan Andi juga menawan.
Pertanyaannya: Ada berapa Andi di kalimat itu?
Sesuatu yang diulang-ulang, selain pemborosan, juga bikin bosan. Iya enggak sih? Ya, kecuali memandang wajah si dia berkali-kali, nggak bakal bosen sih kalau yang itu.

Boros: Kerusuhan-kerusuhan sering melanda daerah perkotaan yang padat.
Akur: Kerusuhan sering melanda daerah perkotaan yang padat.
Boros sosialita: Aku. Aku. Aku. Kalau aku aku sih setuju aja.
Hemat: Kalau aku sih yes. #plak

Begitu juga dalam novel, pengulangan cerita atau fakta yang sama akan membuat jenuh pembaca. Cukup satu-dua kali saja, coy. Pembaca akan bisa merasakan ketika penulis mengulang-ulang adegan atau info yang sama dalam tulisan. Percayalah, jangan seorang pembaca tak bisa ditipu!

Bentuk-bentuk yang mubazir
Bentuk bentuk yang mubazir alias tidak digunakan pun sebetulnya tidak apa-apa.
(a) “Sekolah ini didirikan agar supaya anak-anak di sekitar kampung bisa menuntut ilmu.”
(b) “Terimalah pemberianku ini, hanya sekadar tanda mata dari sahabat lamamu yang begitu menyayangimu.”

Mubazirnya yang mana hayo? Langsung mengatakan intinya saja sudah lebih dari cukup.


Menulis kalimat yang tidak memiliki subjek

“Hujan. Berlari dengan angkuhnya, menerabas daun-daun di hutan, bergerak liar.”
Hayo, ini yang berlari hujan atau siapa coba?
Bandingkan dengan:”Hujan. Pria itu berlari dengan angkuhnya, menerabas daun-daun di hutan, bergerak liar.”
Ingat selalu aturan ini, sebuah kalimat minimal HARUS terdiri atas SATU SUBYEK dan SATU PREDIKAT.
Kalimat lengkap: Edo makan roti tawar.
Klausa: Edo makan
Frasa: Roti tawar
Sesekali nggak pakai subyek tidak apa-apa, asal jelas merujuk ke siapa predikat atau kata kerjanya. Bingung nggak?
“Hujan. Berlari dengan angkuhnya, menerabas daun-daun di hutan, bergerak liar.”
Subyek di kalimat ini tidak jelas, apakah “hujan” atau dia.
“Hujan. Pria itu berlari dengan angkuhnya, menerabas daun-daun di hutan, bergerak liar.”
Kalimat ini jelas, subjeknya “dia”.

Lebih lengkap tentangg Subjek – Predikat – Objek, silakan buka kembali buku pelajaran bahasa Indonesia, buku buku sastra  atau tanya sama mbah google, pasti tahu ilmu apapun. ilmu mantra  pelet pun ada. hehe


Penggunaan istilah asing jika memang sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia
Kita sudah punya “unggah” untuk upload, “unduh” untuk download, “daring” untuk online, “penyitas” untuk survivor, dan “laman” untuk situs web. Catat juga: akun (account), lampiran (attachment), peramban (browser), kata kunci (key word), salin (copy), simpan (save), dan potong (cut). Nambah lagi: ranah maya (cyberspace), pranala (hyperlink), pasang (instal), pindai (scan), berselancar (surfing), dan kata sandi (password). Bahasa Indonesia ternyata kaya ya? Ayo kita cintai bahasa Indonesia dengan menggunakan istilah-istilah asli bahasa sendiri.


Baiklah!! Cukup sekian!! Semoga artikel ini bisa menambah wawasan anda dalam dunia tulis menulis. Semoga bermanfaat.. #SalamSastra
Title : Hal Yang Harus Dihindari Ketika Menulis
Description : Menulis Dunia Sastra || Saat menulis sebuah cerpen,  buku ataupun novel yang hendak dibaca oleh banyak orang atau mungkin yang ingin ...

1 Response to "Hal Yang Harus Dihindari Ketika Menulis"

  1. sangat membantu, bisa jadi koreksi tulisan-tulisan yan lalu

    BalasHapus

Bergabung di FB dan Twitter